Setahun setelah merebut suamiku, mantan sahabatku mengirim undangan baby shower.
“Datanglah merayakan keajaiban kecil kami,” tulisnya manis, lengkap dengan emoji senyum.
“Maaf kamu tidak bisa memberinya seorang putra.”
Aku membeku di dapur sambil menatap amplop hasil tes DNA di meja. Hasil laboratorium itu jelas menyatakan mantan suamiku, Daniel, mandul sejak lahir.
Lalu mataku jatuh pada hasil tes paternitas lain.
Ayah biologis bayi itu ternyata adalah adik kandung Daniel sendiri — Alistair.
Aku tertawa pelan.
“Aku akan datang,” bisikku.
Camille sama sekali tidak tahu hadiah apa yang kubawa.
Dan saat dia membukanya di depan semua orang… dongeng sempurnanya akan terbakar habis.
Di acara baby shower mewah keluarga Mercer, Camille tampil bak ratu. Daniel berdiri bangga di sampingnya, yakin bayi itu adalah “keajaiban keluarga Mercer.”
Aku datang memakai gaun hitam dan membawa sebuah kotak biru dengan pita perak. Tanpa kartu.
Di tengah pesta, Alistair menghampiriku dengan wajah pucat.
“Itu cuma sekali,” katanya gemetar.
“Sekali yang sangat efektif,” jawabku dingin.
Dia mengaku Camille mengatakan Daniel tahu segalanya. Tapi ternyata Daniel tidak tahu apa-apa.
Saat sesi membuka hadiah dimulai, Camille membuka kotakku sambil tersenyum angkuh.
Namun senyumnya langsung membeku.
Di dalam kotak itu ada hasil tes DNA resmi.
Daniel membaca dokumen itu dan wajahnya seketika pucat.
“Ini bilang aku bukan ayahnya…” bisiknya.
Ruangan langsung hening.
Aku berdiri tenang.
“Daniel mandul sejak lahir,” kataku. “Dan ayah bayi itu adalah Alistair.”
Semua orang terkejut. Camille panik.
Lalu Alistair akhirnya berkata jujur di depan semua tamu:
“Bayinya memang anakku.”
Pesta berubah menjadi kehancuran total.
Skandal keluarga Mercer tersebar ke mana-mana. Daniel kehilangan jabatan, bisnis Camille bangkrut, dan seluruh kebohongan mereka terbongkar.
Sementara aku?
Aku membeli rumah baru di tepi laut.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… tidak ada lagi yang terbakar di dalam diriku.