DIA TIDAK MENGENALI PRIA DARI LIBURAN ITU, TAPI DIA MENJADI BOS BARU – PEKERJAAN DIMULAI DENGAN HEBAT.

Cerita yang menarik

Musim panas memiliki aroma khas – perpaduan yang menenangkan antara bunga yang bermekaran, tabir surya, dan aroma makanan kaki lima yang menggoda. Dia sedang berjalan di salah satu malam hangat penuh bintang itu ketika pertama kali melihatnya. Lelaki itu. Sosok asing. Orang misterius yang duduk di bangku dekat air, memegang buku biru tua di tangannya, tapi tidak membacanya. Ia hanya menatap ke depan, seolah mencari jawaban di antara riak air.

“Selamat malam,” katanya tiba-tiba, seolah didorong oleh suara dari dalam dirinya.

Lelaki itu menoleh. Terkejut sejenak, lalu tersenyum samar.

– Selamat malam. Apa kamu juga sedang melarikan diri dari kehidupan sehari-hari?

“Aku hanya ingin berjalan. Kadang kita hanya ingin mendengarkan suara air, tanpa berpikir,” jawabnya.

“Aku setuju.” Lelaki itu bergeser di bangku, memberi isyarat agar dia duduk. “Aku… hanya seseorang yang sedang lewat. Dan kamu?”

– Aku di sini untuk beristirahat selama seminggu.

“Kalau begitu kamu beruntung. Cuaca malam ini sempurna. Katanya besok malam akan ada badai.”

Begitulah awalnya.

Hari-hari berikutnya, mereka semakin sering bertemu – awalnya kebetulan, lalu menjadi pilihan. Ngopi pagi di kafe tepi air, jalan sore di bawah pepohonan rindang, malam hari dengan segelas anggur dan musik lembut yang terdengar dari kejauhan. Dia merasa muda kembali. Bukan sebagai ibu, bukan sebagai pekerja, tapi… sebagai seorang wanita.

Namun pria itu tidak pernah memaksa. Dia tidak menanyakan masa lalu atau rencana ke depan. Dia hanya tertarik pada saat ini.

“Kenapa kamu di sini sendirian?” tanyanya suatu malam saat kaki mereka tergantung di ujung dermaga.

“Aku seorang ibu tunggal,” katanya jujur. “Anakku bersama orang tuaku. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.”

“Itu hal yang berani. Dan patut dihargai.”

Dia tersipu. Sudah lama tak ada yang memujinya dengan tulus seperti itu.

Saat hari perpisahan tiba, lelaki itu hanya berkata: “Terima kasih untuk minggu ini. Kalau takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi.”

“Kalau tidak?”

“Aku tetap bersyukur untuk hari-hari ini.”

Lelaki itu menghilang. Tak ada nomor telepon, tak ada janji, tak ada cara untuk menghubungi.

Tiga bulan kemudian

Dia merapikan blusnya dengan gugup saat memasuki gedung perkantoran modern di kota. Pekerjaan baru, awal baru – itulah motonya. Ia menerima posisi administrasi di sebuah perusahaan kecil setelah terpaksa keluar dari pekerjaan lamanya karena kesalahan keuangan yang bukan salahnya, tapi ia dijadikan kambing hitam.

– Halo, Anda pasti karyawan baru kami – sapa seorang wanita muda di resepsionis. – Mereka sudah menunggu Anda di atas. Manajer ingin memperkenalkan diri langsung.

Dia mengangguk dan memasuki ruang pertemuan.

Dan kemudian… dunia terasa berhenti.

Dia duduk di kursi manajer. Pria yang sama dari musim panas itu. Senyum yang sama. Tatapan yang sama.

“Selamat pagi,” katanya dengan nada lebih formal. “Saya adalah kepala operasional baru. Mulai hari ini, kita… akan bekerja bersama.”

Dia tak bisa berkata-kata. Matanya melebar, tapi pria itu tidak menunjukkan tanda apa pun. Tak ada senyum nakal. Tak ada petunjuk. Hanya jabat tangan profesional.

– Selamat bergabung dengan tim.

Dia hanya mengangguk. Saat itu dia baru sadar: pria itu tak pernah memberitahu apa pekerjaannya saat musim panas lalu.

Udara terasa tegang. Mereka saling menatap, tapi tak mengatakan apa-apa. Akhirnya, dia berbicara.

“Silakan duduk. Saya ingin menjelaskan tugas Anda.”

Dia duduk, jantungnya berdebar kencang. Ia tak tahu apakah pria itu masih mengingatnya atau memang sengaja tak membicarakannya.

“Anda akan bekerja di bagian administrasi,” lanjutnya. “Anda akan sering bekerja sama dengan saya dan kepala departemen lainnya.”

Dia mengangguk, mencoba mengatur pikirannya.

“Ada pertanyaan?” tanyanya.

“Tidak, Pak,” jawabnya sambil menghindari tatapan mata.

“Baik. Sampai jumpa besok pagi.”

Dia keluar ruangan dan menghela napas panjang. Ia tak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini.

Beberapa minggu berikutnya, mereka tetap bersikap profesional. Meski bertemu setiap hari, musim panas itu tak pernah disebut. Ia mulai ragu apakah pria itu benar-benar masih mengingatnya.

Suatu Jumat sore, saat semua orang telah pulang dan dia masih menyelesaikan laporan, seseorang mengetuk pintu.

“Kamu masih di sini?” tanyanya sambil masuk.

“Tentu, Pak,” jawabnya sambil berdiri.

“Panggil saja namaku,” katanya tersenyum. “Tak perlu formal di luar jam kerja.”

Dia mengangguk, sedikit bingung.

“Aku lihat kamu masih bekerja. Tak ingin mengganggu, tapi… maukah kamu makan malam denganku malam ini?”

Dia terkejut.

“Aku… aku tidak tahu,” jawabnya ragu.

“Hanya makan malam,” ujarnya lembut. “Tak lebih. Kita bisa ngobrol.”

Akhirnya, dia setuju.

Restoran itu hangat, dengan cahaya temaram dan musik pelan. Saat mereka duduk, pria itu menatap matanya.

“Aku tak pernah melupakan minggu itu,” katanya pelan.

Jantungnya berdetak cepat.

“Jadi kamu mengingatku,” bisiknya.

“Aku takkan pernah lupa,” jawabnya tersenyum. “Tapi aku tak tahu bagaimana membicarakannya. Aku tak ingin membuatmu canggung.”

“Aku juga begitu,” dia mengakui.

Setelah hening sejenak, pria itu berkata:

“Sebenarnya, aku senang bisa bertemu kamu lagi. Aku ingin mengenalmu lebih dalam – kalau kamu mengizinkan.”

Dia tersenyum.

“Aku juga ingin.”

Dalam minggu-minggu berikutnya, mereka mulai menghabiskan waktu bersama di luar kantor – berjalan-jalan di kota, menonton film, makan malam. Hubungan mereka perlahan tumbuh.

Suatu malam, saat dia mengantarnya pulang, dia berhenti di depan pintu.

“Aku ingin kamu bertemu anakku,” katanya pelan.

Pria itu terkejut, tapi dengan senang hati menerimanya.

“Aku akan sangat senang,” katanya tersenyum.

Hari itu, ia datang membawa bunga untuknya dan boneka untuk anaknya. Awalnya malu, tapi sikap lembut pria itu segera meluluhkan hatinya.

“Kamu suka cerita dongeng?” tanya pria itu.

“Suka,” jawab si kecil.

“Kalau begitu, aku akan bercerita,” katanya sambil duduk di sofa.

Dia melihat dari dapur, hatinya hangat. Dia tahu pria itu tak hanya mencintainya, tapi juga anaknya.

Waktu berlalu, hubungan mereka semakin kuat. Suatu hari, pria itu melamarnya. Dan dia dengan bahagia menjawab, “Ya.”

Pernikahan mereka digelar di sebuah kapel kecil dekat air, tempat pertama kali mereka bertemu. Saat matahari terbenam, mereka mengucap janji, sementara kelopak bunga beterbangan di udara.

Romansa musim panas itu tak berakhir di liburan — justru baru benar-benar dimulai.

Visited 1 times, 1 visit(s) today
Rate article