Dari hari pertama aku bertemu Ryan, aku langsung memperhatikan tato itu. Itu bukan nama, bukan bunga, dan bukan pula desain abstrak yang sering dianggap memiliki makna mendalam.

Historis

 

Itu adalah wajah seorang wanita, potret lengkap. Ia tampak muda, mungkin berusia awal dua puluhan, dengan rambut gelap, mata yang penuh pemikiran, dan ekspresi yang selalu terlihat sedikit sedih.

Awalnya, aku tidak bertanya tentang tato itu. Saat itu kami masih berpacaran, dan aku berusaha keras menjadi pacar yang tidak merasa terancam oleh hal-hal yang sudah ada sebelum aku hadir dalam hidupnya.

Namun tato itu mustahil untuk diabaikan.

Setiap kali Ryan mengenakan kaus tanpa lengan, wajah itu ada di sana. Setiap kali kami berenang, wajah itu ada di sana. Setiap kali ia berbalik di tempat tidur, wajah itu ada di sana.

Seolah mengawasi.

Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan segalanya.

“Siapa dia?”

Ryan bahkan nyaris tidak melirik tatonya.

“Bukan siapa-siapa.”

Jawaban itu menggangguku.

Tidak sampai memicu pertengkaran, tetapi cukup untuk terus kuingat.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kami bertunangan, aku bertanya lagi. Kali ini dia tertawa.

“Tidak ada cerita besar di baliknya.”

“Kalau begitu siapa dia?”

“Temanku sedang belajar membuat tato realistis. Dia mengunduh foto acak dari internet dan butuh seseorang untuk dijadikan bahan latihan.”

Aku menatapnya.

“Serius? Itu penjelasanmu?”

“Itu memang kenyataannya.”

Bahkan saat itu aku tahu dia berbohong. Aku hanya tidak tahu alasannya.

Setelah kami menikah, tato itu semakin menggangguku. Bukan karena aku mengira Ryan berselingkuh, melainkan karena tidak ada orang yang menato wajah orang asing secara permanen di tubuh mereka.

Tidak seperti itu. Tidak sedetail itu.

Pada akhirnya aku memintanya menutupi tato tersebut. Bukan menghapusnya, hanya menutupinya dengan desain lain. Apa saja lebih baik: kompas, gunung, naga. Aku tidak peduli.

Awalnya dia menolak.

Lalu dia setuju. Namun berbulan-bulan berlalu. Seniman tatonya pindah, uang sedang pas-pasan, pekerjaan sibuk—selalu ada alasan.

Akhirnya aku berhenti meminta. Bukan karena aku sudah tidak peduli, melainkan karena aku lelah. Lelah mengulang pertengkaran yang sama. Lelah merasa bersaing dengan seorang wanita yang bahkan namanya pun tidak kuketahui.

Jadi aku belajar mengabaikannya. Setidaknya aku pikir begitu.

Sampai minggu lalu.

Aku sedang mengantre di sebuah toko roti ketika wanita di depanku sedikit menoleh.

Jantungku serasa berhenti.

Aku mengenali wajah itu.

Bukan dari sekolah. Bukan dari pekerjaan. Bukan dari mana pun dalam kehidupan nyata.

Aku mengenalnya dari bahu suamiku.

Selama beberapa detik aku benar-benar mengira sedang berhalusinasi. Lalu dia menoleh sedikit lebih jauh.

Mata yang sama.

Bibir yang sama.

Bahkan tanda lahir kecil di dekat rahangnya.

Lebih tua, tentu saja, tetapi tidak diragukan lagi dia adalah wanita yang sama.

Tanganku mulai gemetar. Aku pasti menatapnya selama satu menit penuh. Akhirnya, sebelum keberanianku hilang, aku melangkah maju.

“Permisi.”

Dia menoleh.

“Ini mungkin terdengar aneh, tapi apakah Anda mengenal seseorang bernama Ryan?”

Reaksinya langsung terlihat.

Seluruh warna di wajahnya lenyap. Dia mundur selangkah.

Aku bisa membaca ekspresinya.

Bukan bingung. Bukan terkejut.

Takut.

Detak jantungku langsung berpacu.

“Anda baik-baik saja?” tanyaku.

Selama beberapa detik dia tidak menjawab. Lalu dia melirik ke arah pintu toko roti, seolah sedang memastikan tidak ada yang mengawasi.

Ketika akhirnya berbicara, suaranya hampir tidak terdengar.

“Ryan?”

Aku mengangguk.

Ekspresinya justru semakin buruk.

Rasa takut itu masih ada, tetapi kini ada sesuatu yang lain.

Kesedihan.

“Dia baik-baik saja?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuatku benar-benar terkejut.

Aku mengira dia akan menyangkal, atau mungkin merasa malu.

Aku tidak pernah menduga dia akan terdengar begitu khawatir.

“Dia baik-baik saja.”

Wanita itu memejamkan mata sejenak. Kelegaan melintas di wajahnya.

Lalu dia menatapku lagi.

“Mengapa Anda menanyakan tentang dia?”

Aku menelan ludah, karena tiba-tiba percakapan ini terasa jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan.

“Karena suami saya menato wajah Anda di bahunya.”

Untuk sesaat dia hanya menatapku.

Kemudian perlahan dia duduk di kursi terdekat.

“Ryan melakukan apa?”

Jantungku berdegup kencang.

“Anda tidak tahu?”

Dia menggeleng perlahan.

“Tidak.”

Selama beberapa detik kami sama-sama terdiam.

Lalu wanita itu menunduk menatap kopinya.

“Kalau Ryan masih membenciku,” katanya pelan, “aku bisa mengerti.”

Kalimat itu sama sekali tidak sesuai dengan semua kemungkinan yang sempat kubayangkan.

Membencinya?

Mungkin dia mantan kekasih Ryan.

Mungkin dia pernah menghancurkan hati Ryan.

Tetapi kalau begitu, mengapa Ryan justru menato wajahnya di bahunya?

Semua ini sama sekali tidak masuk akal.

“Bagaimana kamu mengenalnya?” tanyaku.

Senyum sedih muncul di wajahnya.

“Aku mengenalnya sejak lama.”

Itu bukan jawaban.

Sebelum aku bisa bertanya lebih jauh, dia berdiri.

“Aku harus pergi.”

“Tunggu.”

Dia ragu-ragu. Detak jantungku semakin cepat.

“Siapa sebenarnya kamu?”

Sesaat aku pikir dia akan menjawab. Namun dia hanya menggeleng.

“Itu percakapan yang harus kamu lakukan dengan suamimu.”

Lalu dia berbalik dan pergi.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Mantan pacar. Teman lama. Anak rahasia dari teman keluarga.

Tidak ada yang cocok.

Karena tidak ada penjelasan yang bisa menyatukan semua kepingan itu: bukan tatonya, bukan kebohongannya, dan jelas bukan rasa takut yang kulihat di wajah wanita itu.

Saat aku memasuki halaman rumah, emosiku sudah berada di puncak.

Ryan sedang duduk di teras.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

Aku tidak membalas senyum itu.

Ekspresinya langsung berubah.

“Ada apa?”

Aku berjalan lurus ke arahnya.

“Aku bertemu dengannya.”

Senyumnya menghilang.

Selama sesaat Ryan hanya menatapku. Lalu seluruh warna di wajahnya memudar.

Bukan rasa bersalah.

Dan jelas bukan kepanikan karena ketahuan.

Melainkan ketakutan.

Ketakutan yang sama seperti yang kulihat di toko roti.

“Siapa?” tanyanya.

“Kamu tahu siapa.”

“Wanita di tatomu.”

Ryan tampak seperti baru saja dipukul.

Selama beberapa detik dia tidak berkata apa-apa.

Lalu, “Kamu berbicara dengannya?”

Aku menyilangkan tangan.

“Pilihan kata yang menarik.”

Dia mengabaikannya.

“Dia terlihat baik-baik saja?”

Pertanyaan itu menghantamku seperti tamparan.

Bukan, “Apa yang dia katakan?”

Bukan, “Bagaimana kamu menemukannya?”

Bukan, “Apa yang terjadi?”

Melainkan:

“Dia terlihat baik-baik saja?”

Aku menatapnya.

“Siapa dia?”

Ryan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Gerakan itu tampak lelah, kalah, dan pasrah.

“Namanya Sloane.”

Setidaknya sekarang aku tahu namanya.

“Siapa dia?”

Aku mengulanginya.

Kali ini Ryan memalingkan wajah.

Untuk waktu yang lama, aku pikir dia tidak akan menjawab.

Lalu dengan suara pelan dia berkata,

“Orang yang paling banyak kusakiti dalam hidupku.”

Kata-kata itu membuatku terpaku.

Bukan orang yang dicintainya.

Bukan orang yang kehilangannya.

Tetapi orang yang telah disakitinya.

Perasaan aneh memenuhi dadaku.

Cerita yang selama 12 tahun kubayangkan tiba-tiba runtuh.

“Apa maksudmu?”

Ryan terdiam.

Lalu dia berdiri.

“Mari masuk.”

Kami duduk di meja dapur yang sama tempat kami merayakan ulang tahun, membayar tagihan, dan merencanakan liburan.

Namun sekarang rasanya seperti aku sedang duduk berhadapan dengan orang asing.

Ryan menatap serat kayu di meja selama beberapa detik sebelum berbicara.

“Saat aku berusia 16 tahun, ayahku adalah salah satu orang yang paling dihormati di kota.”

Aku mengernyit.

Ayahnya meninggal bertahun-tahun sebelum aku mengenal Ryan, dan semua cerita yang pernah kudengar tentangnya selalu positif.

Guru. Pelatih. Relawan.

Salah satu orang yang tampaknya dikagumi semua orang.

Ryan tertawa pahit.

“Itulah versi yang diingat semua orang.”

Perutku terasa mual.

“Sloane pernah menuduhnya melakukan sesuatu.”

Dia berhenti.

Menelan ludah.

Lalu mencoba lagi.

“Dia bilang ayahku telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilewati.”

Tiba-tiba dapur terasa lebih sempit.

“Apa yang terjadi?”

Ryan menatapku.

“Seluruh kota menghancurkannya.”

Kata-kata itu jatuh begitu berat.

“Tidak ada yang mempercayainya.”

Suaranya kini sangat pelan.

“Bukan aku. Bukan ibuku. Tidak seorang pun.”

Aku merasa mual.

“Kami menyebutnya pembohong.”

Matanya beralih ke jendela.

“Kami bahkan menyebutnya dengan kata-kata yang lebih buruk.”

Rasa malu dalam suaranya begitu jelas.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Ryan tampak benar-benar malu terhadap dirinya yang dulu.

“Aku masih anak-anak saat itu,” katanya.

“Tapi itu bukan alasan.”

Keheningan menyelimuti kami.

Lalu aku mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sudah kutahu jawabannya.

“Apakah dia mengatakan yang sebenarnya?”

Ryan menutup mata.

“Ya.”

Kata itu keluar nyaris tanpa suara.

Namun entah bagaimana terasa membawa beban selama bertahun-tahun.

Saat dia membuka mata lagi, matanya tampak berkaca-kaca.

“Bukti-bukti muncul bertahun-tahun kemudian. Tidak langsung. Tidak ketika itu masih penting.”

Dia tertawa hambar.

“Kadang memang seperti itu.”

Ruangan terasa sangat sunyi.

“Apa yang terjadi padanya?”

Ryan menunduk.

“Dia meninggalkan kota.”

Aku teringat kembali pada rasa takut yang kulihat di toko roti.

Kesedihan.

Kelelahan.

Cara dia melihat ke belakang sebelum menjawab pertanyaan sederhana.

Tiba-tiba reaksinya masuk akal.

Setidaknya sebagian.

“Lalu apa hubungannya semua ini dengan tato itu?”

Ryan menatapku, dan sesaat dia tampak benar-benar terkejut, seolah lupa bahwa itulah pertanyaan awalnya.

Kemudian dia memberikan senyum kecil yang patah.

“Tato itu dibuat belakangan.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Itu bukan sebelum semua kejadian itu.”

Ruangan mendadak hening.

Selama 12 tahun aku mengira tato itu mewakili hubungan yang pernah ada sebelum aku hadir. Cinta lama. Obsesi lama. Seseorang yang tidak bisa dia lupakan.

Ryan menggeleng.

“Aku membuat tato itu setelah mengetahui kebenarannya.”

Tidak ada satu pun skenario dalam imajinasiku yang mempersiapkanku untuk jawaban itu.

“Kenapa?”

Matanya beralih ke ruang tamu.

Ke arah lorong.

Ke mana saja kecuali menatapku.

Akhirnya dia berbicara.

“Karena selama bertahun-tahun aku ikut menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah.”

Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.

Ryan menelan ludah.

“Aku ingin mengingatnya.”

“Mengingat apa?”

Jawabannya datang seketika.

“Dia.”

Aku mengernyit.

Ryan menunduk ke arah tatonya.

“Aku memilih wajahnya karena aku tidak pernah ingin melupakan siapa yang harus membayar harga karena mengatakan kebenaran.”

Dia kembali menelan ludah.

“Atau apa yang terjadi ketika orang memilih cerita yang mudah dipercaya daripada cerita yang benar.”

Hening.

Lalu dia berkata,

“Aku tidak membuat tato itu karena aku mencintainya.”

Suaranya bergetar.

“Aku membuatnya karena aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Seharusnya aku sudah menceritakan semua ini kepadamu sejak lama.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak melakukannya?”

Ryan tertawa pahit.

“Karena setiap kali kamu bertanya, aku membayangkan harus menjelaskan apa yang telah kulakukan.” Matanya menunduk ke meja. “Dan setiap kali itu juga, aku memilih jalan seorang pengecut.”

Untuk waktu yang lama, kami berdua tidak berbicara.

Aku terus menatap Ryan, mencoba menyatukan sosok pria yang duduk di hadapanku dengan cerita yang baru saja dia ungkapkan.

Dua belas tahun pernikahan, dan entah bagaimana aku tidak pernah sekalipun mendekati kebenaran.

Akhirnya, aku mengajukan pertanyaan yang terus menggangguku sejak di toko roti.

“Mengapa Sloane terlihat takut ketika aku menyebut namamu?”

Ekspresi Ryan langsung menggelap.

Dia sudah tahu jawabannya.

“Dia pikir aku masih menyalahkannya.”

“Dulu memang begitu?”

Senyum menyakitkan muncul di wajahnya.

“Dulu? Tentu saja.”

Dia bersandar di kursinya.

“Saat itu aku berusia 16 tahun. Ayahku adalah pahlawanku. Dia melatih tim bisbolku. Membantuku mengerjakan PR. Datang ke setiap pertandingan.”

Matanya menatap ke luar jendela.

“Ketika Sloane berbicara tentang apa yang terjadi, rasanya mustahil untuk dipercaya.”

Kata-kata berikutnya terdengar seperti menyakitinya secara fisik.

“Jadi aku menjadikannya penjahat dalam cerita itu.”

Hening.

“Aku bukan satu-satunya.”

Tawanya tidak mengandung sedikit pun humor.

“Seluruh kota melakukannya.”

Aku teringat Sloane yang berdiri di toko roti. Ketakutannya. Kewaspadaannya. Cara dia melihat ke belakang sebelum menjawab pertanyaan sederhana.

Kini reaksinya benar-benar masuk akal.

“Apakah kamu pernah meminta maaf?”

Ryan menatap meja.

“Tidak.”

Jawaban itu mengejutkanku.

Bukan karena aku mengira dia tidak ingin meminta maaf, tetapi karena aku membayangkan rasa bersalah itu sudah mendorongnya melakukannya bertahun-tahun lalu.

“Aku pernah mencoba sekali.”

Dia mengusap dahinya.

“Aku mengemudi ke depan rumahnya. Duduk di dalam truk hampir satu jam.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Aku pergi.”

Jawaban itu sedikit menghancurkan hatiku.

Bukan karena itu membenarkannya.

Justru karena tidak.

“Aku meyakinkan diriku bahwa hidupnya akan lebih baik tanpa mendengar kabar dariku.”

Dia menggeleng.

“Padahal kenyataannya, aku hanya pengecut.”

Sesaat kami terdiam.

Lalu aku berdiri.

Ryan mendongak.

“Kamu mau ke mana?”

Aku mengambil kunci mobil.

“Menyelesaikan sebuah percakapan.”

“Elsie.”

“Aku akan kembali.”

“Elsie.”

Tetapi aku sudah pergi.

Manajer toko roti mengenaliku. Aku meninggalkan nomor telepon dan pesan singkat untuk Sloane, memintanya menghubungiku jika dia bersedia berbicara.

Sejujurnya aku tidak berharap apa pun.

Satu jam kemudian, teleponku berdering.

Hal berikutnya yang kusadari, aku sudah duduk berhadapan dengan Sloane di sebuah taman kecil dua blok dari sana.

Dia tampak gugup.

Aku mengerti alasannya.

“Ryan sudah memberitahumu.”

Itu bukan pertanyaan.

Aku mengangguk.

Selama beberapa detik, Sloane menatap kopinya.

Lalu dia tertawa pelan.

Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan.

“Aku selalu bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.”

Kalimat itu mengejutkanku.

“Setelah semua yang terjadi?”

Dia menatapku.

“Terutama setelah semua yang terjadi.”

Aku tidak mengerti.

Sloane tampaknya menyadarinya.

“Tahu bagian yang aneh?”

Dia tersenyum sedih.

“Orang yang paling menyakitimu biasanya bukan orang yang paling kamu khawatirkan.”

Kata-kata itu menggantung di antara kami.

Lalu dia menghela napas.

“Selama bertahun-tahun aku berharap Ryan akan menyadari kebenarannya.”

Tenggorokanku terasa sesak.

“Saat dia tidak melakukannya, aku berhenti berharap.”

Aku memikirkan tato itu, rasa bersalah yang Ryan bawa setiap hari.

“Dia akhirnya menyadarinya.”

Sloane memalingkan wajah.

“Sedikit terlambat.”

Aku tidak bisa membantahnya.

Kami kembali terdiam.

Lalu aku bertanya,

“Kalau dia meminta maaf sekarang, apakah itu masih berarti?”

Sloane menatapku.

Bukan dengan kemarahan.

Bukan dengan kepahitan.

Hanya kelelahan.

Akhirnya dia mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu.”

Itu adalah jawaban paling jujur yang bisa dia berikan.

Tiga hari kemudian, Ryan mengetuk pintu rumah Sloane.

Aku menunggu di dalam mobil.

Ini bukan percakapanku.

Tidak pernah menjadi percakapanku.

Dari tempat dudukku, aku melihat pintu terbuka.

Lalu keduanya terdiam.

Untuk waktu yang lama, tidak ada yang bergerak.

Dua puluh tahun sejarah berdiri di antara mereka di ambang pintu itu.

Akhirnya, Sloane menepi.

Ryan masuk.

Pertemuan itu berlangsung hampir dua jam.

Saat akhirnya dia kembali, matanya merah.

Aku tidak langsung bertanya apa yang terjadi.

Kami sudah berkendara hampir sepuluh menit ketika akhirnya dia berbicara.

“Aku meminta maaf.”

Aku mengangguk.

“Dan?”

Ryan menatap keluar jendela.

Lalu dia tertawa pelan.

Tawa yang lebih banyak berisi kelegaan daripada humor.

“Dia memaafkanku.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Entah mengapa, aku merasa emosional mendengarnya.

Mungkin karena pengampunan jauh lebih langka daripada yang dibayangkan orang.

Atau mungkin karena selama 12 tahun aku percaya tato itu melambangkan cinta, padahal sebenarnya melambangkan penyesalan.

“Apa yang dia katakan?”

Ryan tersenyum.

Senyum sungguhan kali ini.

“Yang pertama?”

Aku mengangguk.

Senyumnya sedikit melebar.

“Dia meminta melihat tatonya.”

Aku berkedip.

“Lalu?”

Ryan tertawa kecil.

“Dia bilang aku seharusnya mencari cara yang tidak terlalu permanen untuk mempelajari pelajaran hidup.”

Aku benar-benar tertawa.

Suara itu mengejutkan kami berdua.

Kemudian Ryan menggeleng.

“Tapi kalimat terakhir yang dia ucapkan jauh lebih menyakitkan.”

“Apa?”

Selama beberapa detik dia menatap kaca depan mobil.

Lalu dengan suara pelan berkata,

“Ryan, aku sudah memaafkanmu bertahun-tahun lalu. Kaulah yang masih membawanya sampai sekarang.”

Kalimat itu juga menghantamku.

Dan menghantam Ryan.

Karena sepanjang sisa perjalanan, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.

Sebulan kemudian, Ryan akhirnya membuat janji dengan seorang seniman tato.

Selama bertahun-tahun aku ingin dia menutupi potret itu.

Selama bertahun-tahun pula dia selalu punya alasan untuk tidak melakukannya.

Kali ini, dia sendiri yang menjadwalkannya.

Malam sebelum janji itu, kami duduk bersama di sofa.

Aku mendapati diriku kembali menatap tato tersebut.

Wajah yang sama.

Mata sedih yang sama.

Wanita yang sama yang selama bertahun-tahun menghantui pernikahan kami.

Hanya saja sekarang aku mengerti.

“Apakah kamu yakin?” tanyaku.

Ryan menunduk menatap tato itu.

Untuk waktu yang lama dia tidak menjawab.

Lalu dia mengejutkanku.

“Tidak.”

Aku mengernyit.

“Maksudmu?”

Ibu jarinya menyentuh tepi tato itu.

“Aku rasa aku tidak perlu menutupinya lagi.”

Aku menunggu.

“Selama bertahun-tahun aku mempertahankannya karena kupikir aku pantas mendapatkan pengingat itu.”

Tatapannya tetap pada potret tersebut.

“Sekarang aku mempertahankannya karena aku tidak lagi bersembunyi dari kebenaran.”

Kata-kata itu membuatku terdiam.

Setahun sebelumnya, kata-kata seperti itu pasti akan memicu pertengkaran.

Sekarang tidak.

Karena tato itu bukan lagi rahasia.

Bukan wanita lain.

Bukan kisah cinta lama.

Bukan kebohongan.

Itu hanyalah sebuah pengingat.

Pengingat yang menyakitkan dan tidak indah.

Tetapi jujur.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Ryan tidak lagi bersembunyi darinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tidak lagi merasa bersaing dengannya.

Keesokan paginya, Ryan membatalkan janjinya dengan seniman tato.

Seminggu kemudian, Sloane mengirimkan sebuah foto kepada kami.

Bukan foto dirinya.

Melainkan foto sebuah pusat bantuan remaja yang ia bantu dirikan untuk anak-anak yang menghadapi krisis di rumah.

Bangunannya tidak besar.

Tetapi penuh.

Anak-anak duduk di meja mengerjakan PR.

Para relawan berbicara dengan keluarga.

Sebuah papan buatan tangan di dekat pintu masuk bertuliskan:

“Kamu diterima di sini.”

Ada catatan singkat yang disertakan.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kepahitan.

Hanya tujuh kata:

“Terima kasih karena akhirnya mengatakan kebenaran.”

Ryan membingkai foto itu.

Sekarang foto tersebut tergantung di lorong rumah kami.

Tatunya masih ada juga.

Anehnya, aku hampir tidak memperhatikannya lagi.

Karena setelah akhirnya mengetahui kisah di balik wanita di bahu suamiku, aku berhenti melihatnya sebagai wanita lain.

Dan mulai melihatnya sebagai kebenaran.

Visited 3,213 times, 1 visit(s) today
Rate article