Putri saya yang sedang hamil masuk ke kantor saya dengan wajah penuh memar baru. Suaminya — seorang politikus lokal yang sangat dicintai masyarakat — berjalan santai di belakangnya lalu menutup pintu.
“Siapa yang akan mereka percaya?” katanya sambil tertawa dan mengangkat tangan. “Wali kota terhormat, atau ibu rumah tangga gila yang hormonal?”
Saya tidak berteriak atau menyerangnya. Saya hanya dengan tenang membetulkan mikrofon di kerah jas saya dan menunjuk lampu merah yang menyala di kamera di belakangnya.
Sebagai pemilik jaringan berita terbesar di negara bagian itu, saya baru saja menyiarkan pengakuannya secara langsung kepada tiga juta penonton.
Putri saya masuk sempoyongan ke kantor dengan darah di bibir dan ketakutan di matanya. Di belakangnya, suaminya tersenyum seperti pria yang merasa sudah menguasai ruangan itu.
“Mom…” bisik Elena.
Ia hamil tujuh bulan, satu tangan melindungi perutnya, tangan lain mencengkeram kusen pintu seolah lantai bisa runtuh kapan saja. Memar segar menghitam di pipi dan lehernya. Salah satu matanya mulai membengkak.
Selama setengah detik, saya hanyalah seorang ibu.
Lalu saya menjadi wanita yang telah saya bentuk selama tiga puluh tahun.
Tenang.
Diam.
Berbahaya.
Wali Kota Grant Voss masuk dan menutup pintu dengan santai. Ia mengenakan jas kampanye biru tua yang sama seperti di billboard rumah sakit dan dapur umum. Tokoh reformasi. Pria keluarga. Suara rakyat.
“Elena memang emosional,” katanya sambil merapikan mansetnya. “Namanya juga hamil.”
Putri saya gemetar saat mendengar suaranya.
Saya menatapnya tenang dari balik meja.
“Apakah kau memukulnya?”
Ia tertawa.
Bukan tertawa gugup.
Bukan tertawa bersalah.
Melainkan tawa sempurna yang cocok untuk kamera.
“Margaret,” katanya, “jangan mempermalukan dirimu sendiri.”
Grant melangkah mendekat ke Elena.
“Katakan pada ibumu kalau kau terpeleset.”
Elena gemetar hebat.
Saya tidak bergerak.
“Ini urusan keluarga,” katanya santai.
“Bukan,” jawab saya. “Ini penyerangan.”
Senyumnya menipis.
“Kau pikir orang akan percaya?” katanya. “Saya wali kota yang membangun kembali kota ini. Pahlawan masyarakat.”
Ia mengangkat tangannya perlahan dan Elena langsung mundur ketakutan.
“Siapa yang akan mereka percaya?” katanya dingin. “Wali kota terhormat, atau ibu rumah tangga gila?”
Tangan saya tetap tenang di atas meja.
Pria seperti dia selalu mengira ketenangan adalah rasa takut.
Ia membungkuk mendekat.
“Kau mungkin punya kamera, Margaret. Tapi saya punya hakim, polisi, donor, bahkan setengah dewan direksimu.”
Saya menoleh ke Elena.
“Berdirilah di belakangku.”
Grant mencibir.
“Dia tidak akan ke mana-mana.”
Tapi Elena tetap berjalan ke arah saya.
Saya merangkul bahunya tanpa melepas pandangan dari Grant.
“Jaringan berita bisa kehilangan izin,” ancamnya. “Sponsor bisa menghilang. Kecelakaan bisa terjadi.”
Akhirnya ancaman itu muncul.
Saya menyentuh mikrofon kecil di kerah jas saya.
Grant langsung menyadarinya.
Matanya menyipit.
Lalu saya tersenyum.
“Grant,” kata saya pelan, “kau masuk ke kantor saya saat siaran langsung sedang berlangsung.”
Wajahnya berubah.
Saya menunjuk kamera di belakangnya.
Lampu merahnya menyala terang.
“Tiga juta penonton,” kata saya. “Dan terus bertambah.”